Bantuan benih bawang merah bagi petani Metro yang bersumber dari dana Tugas Pembantuan APBN 2019 dan disalurkan melalui Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Lampung mulai membuahkan hasil. Pada hari Senin (02/09/19) sejumlah petani bawang merah telah melakukan panen perdana dan pengubinan bawang merah di areal pertanaman kelompok tani Subur I Kelurahan Karangrejo Kecamatan Metro Utara. Kegiatan tersebut disaksikan pula oleh Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan Sekda Kota Metro, Kabag Perekonomian , serta Kepala Bidang TPH dan Kepala Bidang Penyuluhan Pertanian Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kota Metro.

Menurut, Wiji SP selaku Kabid TPH DKP3 Kota Metro,  pada tahun 2019 ini, Kota Metro mendapatkan bantuan 5 ton benih bawang merah yang dialokasikan di Poktan Subur I Kelurahan Karangrejo  dan Poktan Laksana Dua Kelurahan Rejomulyo. Masing-masing poktan menanam bawang merah tersebut seluas 2,5 hektar. “Untuk hari ini yang sudah mulai panen di poktan Subur I ini dan dari hasil ubinan menunjukkan produksi bawang merah lumayan tinggi yaitu rata-rata 5,7 kilogram per meter persegi.  Sehingga total produksi tinggal mengalikan  25000 meter persegi, dikurangi luas pematang dan bagian lahan yang tidak tertanami sekitar 30%.”imbuhnya.

Sementara itu, Asisten Sekda Kota Metro,  Ir. Yeri Ekhwan, MT mengatakan bahwa berdasarkan hasil ubinan panen perdana ini tampaknya produksi yang dihasilkan petani bawang merah di Kota Metro tahun ini lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. “Saya kira para petani kita mampu  belajar dari pengalaman yang sudah-sudah sehingga mereka menguasai cara budidaya yang lebih menghasilkan. Semoga ke depan dapat terus meningkatkan produksi sehingga kebutuhan pasar di Kota Metro dapat terpenuhi dan harga bawang merah pun dapat stabil.”

Dijumpai di tempat yang sama,  Kabid Penyuluhan Pertanian, Herman Susilo, SSi, MTA  mengatakan bila di Kota Metro, sudah banyak petani, terutama di Kecamatan Metro Utara dan Metro Selatan yang menguasai teknologi budidaya bawang merah dan sudah mencoba mengembangkannya sejak beberapa tahun ini, khususnya melalui program Upaya Khusus Padi, Jagung, Kedelai, Bawang Merah dan Cabe (Upsus Pajale Babe). Pendampingan para penyuluh menurutnya menjadi penting, mengingat penyuluh memang memiliki kewajiban untuk mengawal dan mendampingi petani dalam melaksanakan program upsus yang digalakkan Kementerian Pertanian.

Saat ditanya mengenai kesulitan budidaya bawang merah, Herman menjelaskan bahwa budidaya bawang mereh menuntut ketelatenan dan keuletan yang lebih dari petani. Terutama untuk mengatasi embun pagi, petani perlu menyiram tanamannya setiap pagi, sebaiknya sebelum matahari terbit. Kebanyakan petani bawang merah juga dihantui dengan penyakit moler, yang ditandai dengan gejala tanaman mendadak layu, daun tanaman terkulai, melintir dan mengerut. Akar tanaman  dan umbi pun membusuk dan tanaman akhirnya akan mati. “Penyakit ini disebabkan oleh serangan sejenis jamur yaitu Fusarium oxysporum. Bila kualitas benih yang digunakan tidak unggul maka 5 – 10 hari setelah tanam (mulai pecah umbi) penyakit moler bisa mulai menyebar.  Apalagi bila musim penghujan, penyakit akan lebih cepat menyebar dan dapat menyebabkan kerugian yang besar bagi petani. Untunglah, saat ini kita menanam di musim kemarau sehingga penyakit tersebut bisa ditekan. Benih yang ditanam yaitu varietas Bima Brebes juga tergolong baik.  Petani di Poktan Subur I ini mengatasinya dengan  memadatkan tanah di sekitar tanaman yang sakit dengan cara menginjak-injaknya sampai benar-benar padat, lalu mengaplikasikan fungisida Antracol  dengan dosis 1 – 2 sendok takar per tanki selama seminggu sekali. Cara tersebut ternyata efektif untuk mencegah penyebaran penyakit” katanya menjelaskan. (hermansag)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *